Kasus Pembakaran Bendera Tauhid Yang Kian Meruncing

Kasus Pembakaran Bendera Tauhid Yang Kian Meruncing

Judul Asli: Kasus Pembakaran Bendera yang Kian Meruncing

Oleh: Dhedi R Ghazali

Kasus ini semakin menarik untuk disimak setelah polisi menyatakan bahwa 3 pembakar bendera tak memenuhi unsur pidana (baca link berita di kolom komentar), atau dengan kata lain tidak ada tindak pidana dalam peristiwa itu sekaligus status tersangka pada ketiga orang itu tak lagi ada.

“Terhadap tiga orang anggota Banser yang membakar tidak dapat disangka melakukan perbuatan pidana karena salah satu unsur yaitu niat jahat tidak terpenuhi,” kata Karopenmas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo kepada Republika.co.id pada Kamis (25/10).

Mens rea (niat jahat) dalam sisi hukum memang berbeda dengan niat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan sehari-hari niat seseorang tentu tak ada yang tahu, namun dalam hukum pidana, unsur niat jahat harus melewati penyelidikan serta pembuktian. Tentu polisi punya alasan terkait kasus ini sehingga mengatakan tak ada unsur niat jahat di dalamnya.

Alasan polisi dalam kasus ini adalah Ketiganya melakukan aksi pembakaran karena spontanitas melihat adanya bendera HTI di tengah-tengah acara peringatan Hari Santri Nasional (HSN).

“Sejak awal mereka melarang peserta membawa atribut lain selain bendera merah putih, tidak boleh membawa bendera HTI dan ISIS,” kata Brigjend Dedi.

Dari sini dapat dilihat bahwa Polisi meletakkan bendera yang dibakar sebagai bendera HTI dan bahkan menyamakannya dengan bendera ISIS. Tentu arahnya sudah jelas yaitu untuk melegalkan tindakan pembakaran bendera tersebut sebab HTI adalah ormas terlarang.

Hal ini agaknya sedikit rancu sebab seolah polisi mengenyampingkan MUI sebagai lembaga negara di bidang agama islam yang mengatakan bahwa bendera itu bukan bendera HTI.

Kasus ini akan sangat mungkin berujung panjang sebab dengan adanya keterangan di atas secara tidak langsung memberikan ruang kepada pihak-pihak yang meyakini bahwa bendera itu bendera HTI untuk melakukan tindakan yang serupa ke depan dengan alasan itu bendera ormas terlarang.

Apa yang terjadi setelah ini? Melihat keterangan di atas yang terjadi kemudian adalah polisi akan fokus kepada pembawa/ pengibar bendera.

Kenapa?

Sebab kalau 3 orang pembakar dinyatakan tidak bersalah maka yang salah adalah pembawa bendera yang akan dianggap sebagai penyusup dan memenuhi unsur niat jahat. Begitu juga dengan pengunggah videonya yang akan terkena pasal UU ITE.

Hanya saja ada sedikit kejanggalan ketika saya melihat video yang memperlihatkan ketika ada pengibar bendera tersebut di HSN Garut.

Si pengibar jelas ada di barisan para santri dan mengibarkan bendera menggunakan tongkat. Kenapa aneh? Ya karena dengan kata lain pihak keamanan upacara kecolongan. Si pengibar bendera yang ada di antara barisan santri itu dengan leluasa mengibarkan bendera.

Terakhir, akan sangat mungkin ke depannya Menkopolhukam membuat produk hukum baru yang di dalamnya menyatakan bahwa bendera hitam yang dibakar itu adalah bendera HTI.

Kalau sudah begini akan ada legalitas hukum untuk mensweeping bendera itu dan bahkan menangkap oknum pemilik, pembuat, dan pengguna bendera sebab bendera itu akan setara dengan bendera PKI ataupun OPM.

Semoga tidak terjadi chaos di negeri ini. aamiin.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel