Pentingnya Intelektualitas Politik dalam Pilpres 2019

jokowi vs prabowo

Judul Asli: Pentingnya Intelektualitas Politik dalam Pilpres 2019
Oleh: Dhedi R Ghazali

Rocky Gerung mengatakan, “Mendirikan bangsa artinya memperbanyak intelektualitas. Tapi kita hari ini kita dikepung oleh elektabilitas. Akibatnya kita kehilangan kesempatan untuk menemukan intelektualitas,” ujar Rocky, dikutip dari inews.id, 25 April 2018.

Hal hampir serupa juga pernah saya dengar ketika mengikuti Seminar dengan tajuk "Meneropong Problematika Pemilihan Umum Serentaj 2019". Dr. Harjono, S.H., MCL selaku salah satu pembicara mengungkapkan bahwa salah problem dari demokrasi di Indonesia adalah minimnya Intelektualitas Demokrasi itu sendiri.

Dari dua pendapat tersebut, penulis memiliki kesimpulan bahwa intelektualitas menjadi sesuatu yang penting dimiliki oleh masyarakat dalam menghadapi pemilihan umum serentak 2019. Terlebih lagi di tengah panasnya persaingan politik antara kubu petahana dan oposisi.

Kenapa intelektualitas demokrasi itu penting? Fakta menunjukkan bahwa banyak sekali tantangan yang harus dihadapi oleh rakyat sebagai pemegang suara: mulai dari berbagai hoax yang tersebar secara masif, pun juga termasuk kepada politik kebohongan dan politik sontoloyo.

Bahkan dalam seminar yang penulis ikuti, Dr. Refly Harum, SH, MH, LLM mengatakan bahwa "Edit-isme" menjadi musuh yang mengancam pemilu 2019. Edit-isme sendiri merupakan sebutan yang Beliau gunakan untuk mengungkapkan berbagai berita "Hoax" yang dibuat dan disebarkan secara masif.

Mustahil hoax terkait pemilu yang banyak tersebar itu tidak ada campur tangan Partai Politik. Apakah ada seorang yang dengan berani mengedit sesutau menjadi hoax tanpa adanya keuntungan?

Belum juga dengan masalah adu data di mana masing-masing kubu menyajikan data-data yang berbeda. Masyarakat kelas bawah yang notabene juga sebagai pemegang hak suara dibuat bingung dengan pertanyaan, "Mana data yang benar?"

Untuk menjawab pertanyaan serta persoalan di atas tentu memerlukan Intelektualitas Demokrasi agar pemilih tidak memilih hanya sekadar karena melihat apa partainya tapi lupa melihat seperti apa prestasi serta sepak terjangnya.

Sampai pada titik ini, saya memiliki rasa pesimis terhadap keberhasilan pemilu 2019 terlebih faktanya adalah bahwa pemilu tahun depan masih dikuasai oleh 2 partai besar yaitu PDI-P dan Gerindra.

Bahkan di titik tertentu ketika ada yang mendengar nama Jokowi maka yang pertama kali ada di pikiran adalah PDI dan begitu juga ketika mendengar nama Prabowo yang ada dipikiran adalah Gerindra.

Sedangkan partai-partai lain hanya menjadi pengusung atau dengan kata lain pendukung Golkar misalkan, memilih Jokowi karena Golkar mengusung PDI begitu juga kader PKS yang memilih Prabowo karena PKS mengusung Gerindra.

Pertanyaanya adalah apakah seorang memilih presiden karena partai pengusungya atau karena sosok presidennya? Sebab jika pemilih memilih karena Partainya maka tak salah jika memang fakta yang terjadi adalah Elektabilitas menjadi komponen penting dalam menjatuhkan suara, bukan lagi intelektualitas.

Celakanya adalah bahwa Partai Politik itu sendiri menjadi salah satu problem utama dalam demokrasi di negeri ini. Bayangkan saja, data menunjukkan bahwa tidak ada satu pun partai politik yang terbebas dari korupsi bahkan sekelas PPP, PKB dan PKS yang notabene partai berbasis islam sekalipun.

Jikalau pada akhirnya alasannya itu adalah "oknum", tentu alasan demikian sangatlah munafik sebab secara tidak langsung fakta itu menunjukkan adanya kelemahan dalam proses kaderisasi partai politik.

Berbagai permasalahan politik tersebut tentu hanya bisa dihadapi dengan intelektualitas. Sebagai pemegang hak suara, jangan sampai kita hanya mengikuti arus dalam menjatuhkan sebuah pilihan. Jadilah pemilih yang cerdas, pemilih yang memiliki alasan kuat untuk menjatuhkan pilihan kepada salah satu calon.

Bagi saya sendiri, Pemilu 2019 kali ini sangat membosankan karena pada akhirnya seperti sebuah DEJAVU yang mengulang pilpres 2014 dengan Capres yang sama dan tidak menutup kemungkinan, di tahun 2024 hanya akan dikuasai oleh 2 partai yang sama lagi yaitu PDI dan GERINDRA.

Yogya, 2018

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel