Ini Azab Suami Jika Pelit Dan Tidak Adil Menafkahi Istri. No 1 Bikin Syok!

Banyak sesuatu hal yang tak pernah diungkapkan oleh para istr, salah satunya karena tidak adilnya suami untuk memberi nafkah. Tapi Mereka hanya diam saja karena tidak ingin dianggap terlalu banyak menuntut terhadap suami.

Suami memberi nafkah merupakan hal yang paling wajib untuk sebuah pernikahan. Entah nafkah lahir yang terkait dengan pemberian materi seperti uang atau barang untuk kebutuhan sehari-hari , adapun nafkah batin yang terkait dengan rasa aman atau hubungan selayaknya suami istri.

Dari beberapa diskusi, ada beberapa hal yang selalu dikeluhkan istri, salah satunya pemberian nafkah yang kurang layak bagi mereka, padahal suami sangat berkecukupan, ada pula karena sang istri pun ikut bekerja, sehingga suami memberikan nafkah hanya sekadarnya saja, karena bagi mereka, ‘istri juga harus membagi penghasilannya’ untuk mencukupi keperluan keluarga.

yang akhirnya pembagian mencukupi kebutuhan rumah tangga jadi “tak adil”, istri ternyata menempati porsi terbanyak mencukupi kebutuhan rumah tangga. Sampai ada pula istri yang mengeluh sama sekali tak diberikan nafkah lahir karena berhubungan tidak harmonisnya rumah tangga mereka.

Sebetulnya Islam mejelaskan nafkah untuk istri ini seperti apa? Jika para suami menelaah satu saja ayat Al Qur’an tentu ia akan memahami fungsinya sebagai kepala rumah tangga. “Wajib bagi setiap suami untuk memberikan nafkah dan pakaian kepada istri, dengan sepantasnya.” (Q.S. Al-Baqarah:233)

Wajib disini mengandung pengertian tegas namun sederhana, jika tak ada yang lebih pantas menafkahi istri dan anak-anaknya, perumahan, memberikan pakaian, mencukupinya makan dan beberapa keperluan pokok lainnya, melainkan seluruhnya ada dalam tanggungan suaminya

apabila suami dalam kondisi kurang mampu menanggungnya, maka bila istri ikut bekerja untuk membantu mencukupi kebutuhan rumah tangga, maka itu terhitung sebagai sedekah untuk keluarga, bukan sebagai ‘pemberi pokok’, kecuali bila suami mengalami sakit parah atau keberadaannya tidak diketahui, atau dalam ondisi darurat lainnya, seperti karena suatu hal harus berada didalam penjara.

Dan bila tidak ada hal darurat atau penyulit seperti itu, suami adalah orang yang bisa bekerja dengan baik dan mendapatkan uang yang sangat cukup, maka ia wajib memberikan nafkah secara layak kepada istri dan keluarga. Sedang suami yang tidak memberikan nafkah kepada istri dengan tidak layak padahal ia bisa memberikannya, maka suami telah melakukan perbuatan zalim kepada istrinya. Dan tentulah zalim itu adalah perbuatan dosa.

Lalu, bagaimana sikap istri dalam menyikapi hal ini, dan bagaimana sebenarnya Islam memandang permasalahan mengenai nafkah ini?

1. Suami wajib memberikan nafkah kepada istri, baik lahir maupun batin. Melalaikan hal ini berarti perbuatan zalim, mengingkari ayat-ayat Allah.

2. Jika suami bakhil, pelit terhadap istrinya dan tidak memberikan nafkah tersebut secara layak, padahal suami memberikannya, dan suami hanya menumpuk harta dan kekayaannya untuk kepentingannya sendiri dan melalaikan kepentingan pokok istri dan keluarganya, maka hal tersebut sangat menjadi perhatian Rasulullah:

Dari ‘Aisyah bahwa Hindun binti ‘Utbah berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan (suamiku, Pen) seorang laki-laki yang bakhil. Dia tidak memberi (nafkah) kepadaku yang mencukupi aku dan anakku, kecuali yang aku ambil darinya sedangkan dia tidak tahu”. Maka beliau bersabda:

“Ambillah yang mencukupimu dan anakmu dengan patut.”[HR Bukhari, no. 5364; Muslim, no. 1714]

Hadits tersebut mengisyaratkan, sebenarnya ada bagian dari istri untuk harta suami untuk nafkahnya juga kehidupan keluarga dan jumlahnya pun sewajarnya. Istri bahkan boleh mengambil harta suami tanpa izin, sesuai dengan kebutuhannya.

3. Syaikh Shalih bin Ghanim as Sadlaan bahkan mengomentari secara khusus mengenai kasus suami pelit pada istrinya, beliau berkata “Memang ada kewajiban nafkah untuk istri. Dan nafkah itu diukur apa yang bisa mencukupi istri dan anak-anaknya dengan memberikannya secara ma’ruf yang berarti nafkah itu diberikan secara patut, pada umumnya dan baik”. Selanjutnya ia menambahkan jika suami tidak memberikan secara patut maka istri boleh mengambil harta suami tanpa sepengetahuan atau izinnya namun juga secara ma’ruf.

4. Mengambil harta suami tanpa sepengetahuan jika suami pelit ini memang ada rambu-rambunya, jadi harus dengan ma’ruf yakni tak berlebih-lebihan sekedar cukup untuk memenuhi kebutuhannya.

5. Jika Suami tidak bisa memberikan harta karena dalam kesusahan atau kemiskinan, maka istri dianjurkan untuk ridha sekaligus bersabar dengan itu, dan sebaiknya istri membantu untuk mencari nafkah keluarga.

6. Istri yang bekerja dan mempunyai penghasilan, jika ia memberikan penghasilannya untuk membantu keperluan keluarga, maka itu hanya sebagai sedekah saja, dan itu tetap menjadi penghasilan dan harta istri, tak ada kewajiban (sebenarnya) dalam membantu keluarga dengan uang atau harta tersebut, hingga suami sebenarnya sama sekali tidak boleh menguasai harta atau mengambil harta istrinya tanpa izin istrinya.

Hal ini diperkuat dengan dalilnya: hadis dari Abu Said Al-Khudri, bahwa suatu ketika, Zainab (istri Ibnu Mas’ud) hendak membayar zakat perhiasan yang dia miliki. Kemudian beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Bolehkah istri memberikan zakatnya kepada suaminya dan anak yatim dalam asuhannya?

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Ya, silakan. Dia mendapat dua pahala: pahala menjaga hubungan kekerabatan dan pahala bersedekah.” (HR. Bukhari 1466)

Dari uraian di atas tersebut jelaslah jika kebutuhan nafkah itu memang kewajiban suami, melalaikan kewajiban itu adalah sesuatu yang zalim. Jika istri bekerja, itu memang melakukan tugas untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga atau untuk menerapkan ilmunya dan membantu sesamanya.

SILAHKAN SHARE UNTUK KEBAIKAN PARA ISTRI